cari apa?

Translate

Aku Sudah Sampai, Tapi Kamu Lebih Dulu Pulang

Beberapa hari lalu, aku menulis:
“andai sakitmu bisa kutarik masuk ke dalam pelukku. tunggu aku.”
Tapi ternyata aku tak bisa, ya.
Ternyata kamu sudah tak tahan lagi menungguku.

Aku sudah sampai, Simba.
Tapi kamu lebih dulu pulang.

Aku masih memanggilmu sewaktu ku tiba, 
berharap ada suara lirih yang menyahut. 
Ternyata yang menyambutku hanya sunyi.
Sunyi yang berat.
Rasanya menampar semua rindu yang sempat kutunda.

Aku merasa bodoh
Kenapa aku baru pulang sekarang?
Kenapa aku tak ada di sisimu di detik terakhir?
Aku yang sering bilang sayang, tapi justru tak hadir saat kau paling butuh teman

Apakah pada saat itu kamu ketakutan, sayang?
Apakah pada saat itu kamu kesakitan, sayang?

Walaupun Tuhan tidak mengabulkan doaku untuk menyembuhkan dan menyempatkan aku bertemu denganmu, aku masih berharap bahwa Ia mengabulkan doaku untuk menjemputmu tanpa membuatmu kesakitan. Sekarang aku hanya bisa berdoa, meski aku tau tidak ada gunanya, tapi aku berdoa untuk kamu tidak akan kesepian di sana.

Ada penyesalan yang berat sekali di dadaku
Rasanya seperti ditinggal tanpa pamit,
Walau sudah dipesani berkali-kali oleh orang rumah,
tapi aku masih tak siap menghadapinya

Aku ingin sekali kamu merasakan kehadiranku saat kuusap kepalamu.
Aku ingin sekali kamu mendengar cintaku saat aku bilang, "terima kasih sudah menemaniku, simba sayang. Aku sayang kamu. Tolong maafkan aku"

Simba, maafkan aku.
Aku tahu kamu sudah lelah menahan sakit itu. Dan mungkin ini cara Tuhan bilang: kamu sudah cukup kuat, waktunya beristirahat. 

Aku belum siap...
Aku ingin memelukmu sekali saja lagi,
menepati janjiku yang terlambat.

Simbaku tersayang,
Biarkan kerinduan ini tinggal dan menjadi pengingat,
bahwa aku pernah punya kamu, yang kurasa waktumu tak akan pernah untuk cukup di sini karena aku masih membutuhkanmu. Kamu yang pulangnya terlalu cepat, sementara aku masih ingin menahanmu lebih lama

Aku sudah sampai, Simba.
Aku baru pulang.
Tapi ternyata kamu lebih dulu ingin pergi.
dan di antara penyesalan dan tangis,
aku harap kamu tetap merasakan cintaku,
meski belum sempat kau dengarkan di detik terakhirmu




Rasa yang aku (coba) jaga diam-diam

Ada seseorang yang membuatku kagum. Bukan karena dia sempurna, tapi karena ada sesuatu dalam dirinya yang terasa menenangkan. Awalnya aku pikir ini perasaan sederhana, sekadar rasa kagum biasa, tapi lama-lama aku mulai sadar bahwa aku benar-benar menyukainya

Aku suka caranya berbicara, caranya membawa diri, caranya menatap mataku saat aku mendengarkan dia berbicara, dan hal-hal kecil yang bahkan mungkin tidak siapa pun sadari. Aku berusaha menutupi semuanya, tapi ternyata aku tak bisa. Teman-temanku tau bagaimana reaksiku setiap melihatmu. Saltingku keliatan katanya. Padahal aku tau... aku harus lebih bisa menjaga diri

Aku tau, dalam agamaku, rasa suka bukan dosa. Yang bisa jadi salah adalah caraku menyikapi rasa itu. Aku paham perasaan ini boleh tumbuh, tapi aku tak boleh membiarkannya tumbuh tanpa arah. Maka sekarang, aku sedang belajar untuk menyimpannya di tempat yang lebih aman, yaitu dalam doaku

Aku sudah menanyakan hal yang perlu kutanyakan. Hanya itu. Sisanya, aku ingin berhenti di sini. Bukan karena aku berhenti suka, tapi aku ingin menjaga diriku, dan juga dirinya, dari hal-hal yang tidak seharusnya

Mungkin nanti, kalau takdir ingin bercanda, jalan kami akan bertemu lagi. Tapi untuk sekarang, aku cukup dengan rasa yang kujaga diam-diam. Belajar bagaimana mencintai dengan cara yang baik, tanpa harus merusak ketenangan siapa pun. 

Dan semoga Allah melihat usahaku. Untuk menjaga hati, yang kadang terlalu mudah jatuh. Namun, kali ini aku ingin jatuhnya tetap dalam lindungan-Nya

(4 September, 2025)