Postingan

Barangkali Kesadaran

Aku baru sadar, ternyata aku menulis paling banyak di dua waktu: saat aku jatuh cinta, dan saat aku patah hati. Mungkin karena di antara dua fase itu aku merasa penuh. Barangkali saat aku jatuh cinta, kata-kataku jadi hangat, ringan, penuh suka cita, indah. Barangkali saat patah hati, kata-kataku jadi jujur, sepi, pedih, hampa. Jauh selisihnya bagai langit dan bumi. Eh tapi kan langit dan bumi itu sama-sama ada di alam ini. Yaudah lah, saling melengkapi haha Aku jadinya sadar: menulis selalu menjadi caraku bertahan, menjadi caraku menjaga kewarasan, menjadi caraku untuk mengetahui perasaan terdalam.. Barangkali. Haha.  (5 Maret 2026)

Rasa yang aku (coba) Lepaskan Pelan-Pelan

Tentang rasa itu... Rasa yang pernah kucoba jaga diam-diam. Rasa yang pernah kucoba simpan baik-baik. Tapi sekarang... Rasanya jadi biasa aja. Sudah tidak sama lagi. Tidak ada kejadian besar yang membuatku berhenti. Tidak ada kalimat yang mematahkan percaya diri. Tidak ada sikapnya yang menyadarkanku secara tiba-tiba. Aku masih penasaran dengan alasannya. Apakah ada penjelasannya? Aku malas mencari, tapi aku ingin tahu sekali. Rasanya... bukan karena kecewa. Bukan juga karena patah hati. Orang baru? Ah, aku malas mencari. Yah... rasanya... cuma... selesai. Gitu aja. Yang tersisa hanya kagum. Dan ternyata kagum itu lebih tenang daripada cinta yang berharap. Kagum tidak menuntut. Kagum tidak membuatku menunggu. Kagum tidak membuatku menyusun skenario di kepala sebelum tidur. Lucu ya. Perasaan bisa berubah tanpa drama. Mungkin memang begitu cara Allah menjaga hatiku. Dibiarkan-Nya merasakan hangatnya suka, lalu ditenangkan kembali sebelum hangat itu menjadi harap yang terlalu jauh. Aku ti...

Aku Sudah Sampai, Tapi Kamu Lebih Dulu Pulang

Gambar
Beberapa hari lalu, aku menulis: “andai sakitmu bisa kutarik masuk ke dalam pelukku. tunggu aku.” Tapi ternyata aku tak bisa, ya. Ternyata kamu sudah tak tahan lagi menungguku. Aku sudah sampai, Simba. Tapi kamu lebih dulu pulang. Aku masih memanggilmu sewaktu ku tiba,  berharap ada suara lirih yang menyahut.  Ternyata yang menyambutku hanya sunyi. Sunyi yang berat. Rasanya menampar semua rindu yang sempat kutunda. Aku merasa bodoh Kenapa aku baru pulang sekarang? Kenapa aku tak ada di sisimu di detik terakhir? Aku yang sering bilang sayang, tapi justru tak hadir saat kau paling butuh teman Apakah pada saat itu kamu ketakutan, sayang? Apakah pada saat itu kamu kesakitan, sayang? Walaupun Tuhan tidak mengabulkan doaku untuk menyembuhkan dan menyempatkan aku bertemu denganmu, aku masih berharap bahwa Ia mengabulkan doaku untuk menjemputmu tanpa membuatmu kesakitan. Sekarang aku hanya bisa berdoa, meski aku tau tidak ada gunanya, tapi aku berdoa untuk kamu tidak akan kesepian di ...