"Butuh waktu cukup lama untuk berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan masa lalu, dan belajar berani kembali menapak setelah kaki penuh duri.
Tapi, dengan gampangnya, kamu datang kembali dan membuat usaha itu terasa sia-sia. kamu datang perlahan, lalu berpudar, dan mungkin akan berakhir menghilang.
Sampai saat ini, aku masih tertatih-tatih, terseok-seok, aku tak karuan.
Aku mengharap bantuan, untuk menyembuhkan hati ini dari luka yang kamu toreh, lagi."
-- @hev.erasi di instagram, dengan sedikit tambah dan pengurangan. cek di sini
Entahlah, aku masih tak paham dengan apa yang aku rasakan. Apa mungkin karena saking labilnya aku sampai sudah tak merasa sakit lagi, atau karena luka itu memang sudah sembuh? Atau juga mungkin karena enggak ada yang lalu lalang lagi? Entahlah.
Memahami perasaanku sendiri aja udah susah, terus kenapa aku masih mau membebaninya dengan memikirkan perasaan orang lain, ya? Jadi orang yang 'sok peduli' sampai lupa kalau diri ini juga perlu dipedulikan, duh. Eh, iya, 'kan memang hidup bukan tentang orang lain.
Toh, aku yang memegang kendali, akulah yang menentukan arah mata angin. Sungguh, sepertinya aku memang perlu tau tujuanku dulu supaya enggak kesasar ke sana ke mari, dan supaya aku tau kapan harus melaju dan kapan harus pulang. Tapi susah, heh.
Mungkin karena masih belum berani melangkahkan kaki, aku masih aja stuck di sini. Apa karena terlalu percaya pada kaki sendiri dan enggak perlu bantuan orang lain yang bikin kaki ini berat melangkah, ya? Hm, bisa jadi.
Aih, udah malem ternyata di tempatku. Di tempat kamu gimana, udah malem juga? Aku udah ngantuk, nih. pantes obrolannya udah ga karuan lagi.
Sekian, terima kasih sudah bersedia mendengarkan, ya. Tolong jangan jera, mampir ke sini lagi yaa kalau enggak sibuk. oke?
-Hann. (22.00 - 090321)