Tuan, ternyata cinta sesingkat ini
Ia pernah memperlakukanku layaknya ratu
Sebelum ia mengkhianatiku
Tuan, ternyata cinta sesakit ini
Aku berusaha untuk membahagiakannya
Aku yang rela berdarah dan bernanah untuknya
Tapi apa yang aku tuai dari pengorbanan itu, Tuan?
Jika hanya untuk meninggalkan luka dan duka
Membentuk relief, tak memudar, dan menjadi cacat
Harusnya aku sadar dari awal,
Harusnya aku tolak mentah-mentah sesuatu bernama cinta itu
Agar sekarang aku tidak menelantarkan perasaan bodoh itu
Tuan, kamulah perlakunya
Kamu lah 'ia' dalam tulisan ini
Kamu lah penyebab kenapa aku menelantarkan cinta
Dan kamu juga lah yang memaksaku untuk berdamai dengan itu
Apa maumu sebenarnya, Tuan?
Tapi tenang lah dulu, Tuan.
Aku tak sampai menaruh dendam padamu
Dan aku pun tak tega mengharap karma untukmu
Karena sedari awal aku sudah siap
Aku telah berjanji pada diri ini
Kamu tau, kan?
Aku siap menanggung segala resiko
Bila ingin menjatuhkan hati ini padamu
Aku pun tak berniat menyalahkanmu
Karena jujur, setelah memantapkan berpisah,
Aku rasa tidak ada lagi yang kurang dalam 'aku'
Tenang saja lah, Tuan.
Aku masih menyiapkan tempat di hatiku
Karena hati dan jiwaku
Sudah jatuh ke tempat yang tidak semestinya
-Hann. (00.00 - 030521)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar