Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Aku Sudah Sampai, Tapi Kamu Lebih Dulu Pulang

Gambar
Beberapa hari lalu, aku menulis: “andai sakitmu bisa kutarik masuk ke dalam pelukku. tunggu aku.” Tapi ternyata aku tak bisa, ya. Ternyata kamu sudah tak tahan lagi menungguku. Aku sudah sampai, Simba. Tapi kamu lebih dulu pulang. Aku masih memanggilmu sewaktu ku tiba,  berharap ada suara lirih yang menyahut.  Ternyata yang menyambutku hanya sunyi. Sunyi yang berat. Rasanya menampar semua rindu yang sempat kutunda. Aku merasa bodoh Kenapa aku baru pulang sekarang? Kenapa aku tak ada di sisimu di detik terakhir? Aku yang sering bilang sayang, tapi justru tak hadir saat kau paling butuh teman Apakah pada saat itu kamu ketakutan, sayang? Apakah pada saat itu kamu kesakitan, sayang? Walaupun Tuhan tidak mengabulkan doaku untuk menyembuhkan dan menyempatkan aku bertemu denganmu, aku masih berharap bahwa Ia mengabulkan doaku untuk menjemputmu tanpa membuatmu kesakitan. Sekarang aku hanya bisa berdoa, meski aku tau tidak ada gunanya, tapi aku berdoa untuk kamu tidak akan kesepian di ...

Rasa yang aku (coba) jaga diam-diam

Ada seseorang yang membuatku kagum. Bukan karena dia sempurna, tapi karena ada sesuatu dalam dirinya yang terasa menenangkan. Awalnya aku pikir ini perasaan sederhana, sekadar rasa kagum biasa, tapi lama-lama aku mulai sadar bahwa aku benar-benar menyukainya Aku suka caranya berbicara, caranya membawa diri, caranya menatap mataku saat aku mendengarkan dia berbicara, dan hal-hal kecil yang bahkan mungkin tidak siapa pun sadari. Aku berusaha menutupi semuanya, tapi ternyata aku tak bisa. Teman-temanku tau bagaimana reaksiku setiap melihatmu. Saltingku keliatan katanya. Padahal aku tau... aku harus lebih bisa menjaga diri Aku tau, dalam agamaku, rasa suka bukan dosa. Yang bisa jadi salah adalah caraku menyikapi rasa itu. Aku paham perasaan ini boleh tumbuh, tapi aku tak boleh membiarkannya tumbuh tanpa arah. Maka sekarang, aku sedang belajar untuk menyimpannya di tempat yang lebih aman, yaitu dalam doaku Aku sudah menanyakan hal yang perlu kutanyakan. Hanya itu. Sisanya, aku ingin berhent...

Rasa yang aku (coba) simpan baik-baik

Aku tidak tau apakah dia akan menjadi takdirku. Aku juga tidak tau apakah perasaan ini akan berhenti di sini, atau diam-diam tumbuh pelan tanpa bisa kucegah. Yang aku tau, saat ini aku hanya menyukainya. Tidak banyak harap. Tidak ingin memaksa apa pun. Justru itu aku ingin menjaga perasaan ini baik-baik. Aku tidak mau menyembunyikannya. Perasaan ini akan aku tutpi untuk memastikan tidak ada yang terluka. Bukan dia, bukan aku, bukan siapa pun. Aku menulis namanya bukan untuk berharap sesuatu terjadi. Aku hanya ingin jujur pada diri sendiri. Aku ingin menulis agar aku bisa lega. Agar pikiranku tidak berkelana terlalu jauh, dan hatiku tetap punya arah untuk pulang Kalau memang dia bukan untukku, semoga perasaan ini tau kapan harus berhenti. Tapi kalau suatu hari ternyata semesta menuntun kami ke jalan yang sama, biarlah saat itu datang di waktunya Untuk sekarang, cukup lah aku menjaga perasaan ini diam-diam.  (29 September 2025)

kehilangan tidak pernah benar-benar selesai, ia hanya berubah rupa menjadi doa dan kenangan

Gambar
 "kehilangan tidak pernah benar-benar selesai, ia hanya berubah rupa menjadi doa dan kenangan" --- Tempat ini bukan sekadar tanah dan batu nisan. Ia adalah rumah terakhir, tempat rindu kembali bermuara, ketika ia sudah terlalu berat untuk dipendam sendiri. Kadang kita datang hanya untuk duduk, kadang hanya untuk berdoa. Tapi selalu ada rasa yang tertinggal, seolah kita sedang berbicara tanpa suara.  Aku melihat mamaku… betapa kuatnya beliau menanggung rindu pada Mamanya, bahkan setelah ia menjadi seorang mama. Aku melihat bapakku… yang kadang diam-diam masih mencari sosok mamanya, meski di mataku ia selalu tampak tegar. Dan aku, anak mereka, hanya bisa mengagumi keduanya. Betapa besar cinta dan kerinduan yang mereka simpan. Rasanya aku takkan sanggup jika harus berada di posisi mereka. Hanun, Nai